Sawit Jadi Tameng Energi Indonesia di Tengah Konflik Timur Tengah, Ini Buktinya

Sawit Jadi Tameng Energi Indonesia di Tengah Konflik Timur Tengah, Ini Buktinya

Nusantaratv.com - 07 Maret 2026

Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi. (Foto: ANTARA/Dokumentasi Pribadi)
Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi. (Foto: ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

Penulis: Adiantoro

Nusantaratv.com - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kelapa sawit sebagai "tanaman ajaib" sempat menuai sindiran di media sosial.

Namun di tengah eskalasi perang di Timur Tengah, sawit nampaknya membuka mata banyak pihak tentang banyak manfaatnya.

Ya, dari sawit, produksi biodiesel nasional naik dan impor bahan bakar turun. Jadi istilah awit sebagai "tanaman ajaib" itu kini mulai menemukan maknanya dalam konteks ketahanan energi Indonesia.

Data terbaru menunjukkan produksi biodiesel berbasis sawit mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020, produksi biodiesel Indonesia tercatat sekitar 8,4 juta kiloliter. Angka itu meningkat tajam menjadi sekitar 20,1 juta kiloliter pada 2026.

Lonjakan produksi ini beriringan dengan turunnya impor solar yang sebelumnya mencapai beberapa juta kiloliter per tahun. Kini, impor tersebut hampir tidak lagi diperlukan.

Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, menilai perubahan tersebut menunjukkan peran strategis sawit dalam sistem energi nasional.

"Dalam beberapa tahun terakhir, produksi biodiesel dari sawit meningkat pesat. Dari sekitar 8,4 juta kiloliter pada 2020 menjadi sekitar 20,1 juta kiloliter pada 2026," ujar Fahmi, ditulis Sabtu (7/3/2026).

Dia menjelaskan, peningkatan produksi biodiesel membuat kebutuhan solar nasional semakin banyak dipenuhi dari dalam negeri. 

"Artinya, hampir setengah kebutuhan solar Indonesia kini bisa dipenuhi oleh biodiesel dari sawit, sehingga produksi dalam negeri dapat menutup seluruh kebutuhan nasional," katanya.

Dari "Tanaman Ajaib" menjadi Kebun Energi

Menurut Fahmi, dalam konteks ketahanan energi, sawit kini tidak hanya dilihat sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga sebagai sumber energi strategis. 

Dia menggambarkan sawit sebagai kebun energi yang mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan bahan bakar dari luar negeri.

Peran ini menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian energi global. Ketegangan geopolitik, termasuk konflik yang melibatkan Iran dan dinamika keamanan di Timur Tengah, berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia.

Gangguan pada jalur energi global biasanya diikuti lonjakan harga dan krisis pasokan, terutama bagi negara yang bergantung pada impor bahan bakar.

"Ketika jalur energi dunia terganggu, harga bisa melonjak dan negara yang bergantung pada impor akan sangat rentan. Dalam situasi seperti ini, kemampuan memproduksi energi sendiri menjadi sangat berharga," jelas Fahmi.

Dia menambahkan, keberadaan biodiesel sawit membuat Indonesia memiliki bantalan energi yang relatif kuat dibanding banyak negara lain. Selain mengurangi impor bahan bakar, program biodiesel juga menghemat devisa negara sekaligus memperkuat ketahanan nasional.

Lebih jauh, Fahmi menilai posisi ini bahkan dapat memberi keuntungan strategis jika terjadi krisis global berskala besar, termasuk kemungkinan konflik dunia.

Dengan kemampuan memproduksi energi sendiri dari sektor perkebunan, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk tetap stabil dibanding negara yang sepenuhnya bergantung pada impor energi.

"Selain menjadi sumber penghidupan jutaan petani, sawit juga menjadi tameng energi bagi Indonesia,” ujarnya.

Bagi Fahmi, di situlah makna sebenarnya dari istilah "tanaman ajaib" yang pernah disampaikan Presiden Prabowo.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close