Riset UI: MBG Berdampak Positif bagi Keluarga Kurang Mampu

Riset UI: MBG Berdampak Positif bagi Keluarga Kurang Mampu

Nusantaratv.com - 20 Februari 2026

Balita non-PAUD menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) dari kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang mengantarkan makanan hingga ke rumah sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menekan angka stunting. ANTARA/HO-Kemendukbangga/BKKBN (Antara)
Balita non-PAUD menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) dari kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang mengantarkan makanan hingga ke rumah sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menekan angka stunting. ANTARA/HO-Kemendukbangga/BKKBN (Antara)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti memberi dampak nyata bagi peserta didik, khususnya dari kelompok sosial ekonomi rendah. Temuan ini terungkap dari riset kolaboratif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Laboratorium Sosiologi Universitas Indonesia (Labsosio UI) yang dilaksanakan sepanjang tahun 2025.

Berdasarkan keterangan resmi Badan Gizi Nasional (BGN) yang diterima di Jakarta pada Jumat, 20 Februari 2026, program MBG membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak dari keluarga prasejahtera dengan skor persepsi mencapai 4,30.

Evaluasi yang dilakukan Labsosio UI menunjukkan adanya pengaruh signifikan terhadap proses belajar. Sebanyak 66,4 persen murid mengaku lebih bersemangat saat mengikuti pelajaran. Hasil ini memperlihatkan keterkaitan antara asupan gizi yang cukup dengan peningkatan energi, konsentrasi, dan motivasi belajar.

Tidak hanya berdampak pada aspek akademik, kegiatan makan bersama di sekolah juga memberikan pengalaman sosial yang positif. Sebanyak 85,8 persen murid menyatakan bahwa MBG menghadirkan pengalaman menyenangkan, baik dari sisi kualitas makanan maupun interaksi sosial yang terbangun.

Dilansir dari Antara, momen makan bersama dinilai memperkuat rasa kebersamaan sekaligus membentuk kebiasaan makan yang lebih tertib.

Kemendikdasmen sebelumnya turut melakukan kajian evaluatif terhadap implementasi MBG sepanjang tahun 2025. Studi tersebut melibatkan 334.128 murid dari 11.143 satuan pendidikan penerima manfaat yang tersebar di 29 provinsi.

Hasilnya, 69 persen siswa merasakan perbaikan pola makan dan kualitas gizi. Selain itu, 27,9 persen murid menjadi lebih fokus saat belajar, 28,2 persen lebih bersemangat mengikuti kegiatan pembelajaran, dan 25,7 persen lebih rajin bersekolah. Bahkan, 12,5 persen murid dilaporkan lebih jarang sakit setelah rutin mengonsumsi MBG.

Data Kemendikdasmen per 18 Februari 2026 mencatat sebanyak 43,17 juta peserta didik telah menerima manfaat MBG dari total 53,4 juta siswa yang terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Capaian ini menunjukkan perluasan implementasi program secara signifikan di tingkat nasional.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti memastikan bahwa alokasi anggaran pendidikan pada tahun 2026 tidak mengalami pemangkasan akibat program MBG, bahkan justru meningkat.

"Anggarannya malah lebih besar setelah ada MBG, karena akan ditambah Presiden. Maka Kemendikdasmen mengajukan anggaran biaya tambahan (ABT)," kata Mu’ti.

Ia juga menegaskan bahwa sekitar 43 juta penerima manfaat MBG saat ini merupakan siswa sekolah. Program tersebut dinilai mendukung upaya Kemendikdasmen dalam membangun semangat belajar serta penguatan karakter peserta didik.

"MBG juga mendukung program ketujuh dalam Indonesia hebat, yaitu makan makanan sehat dan bergizi," ujarnya.


 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close