Nusantartv.com - Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), Riyanto Sofyan, menegaskan bahwa pengembangan pariwisata halal harus diposisikan sebagai strategi bisnis yang terukur, bukan sekadar perdebatan simbolik atau isu sensitif bernuansa ideologis.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam diskusi Nusantara Sharia Economic Forum di Nusantara Studio, Rabu (4/3/2026). Menurut Riyanto, Indonesia kerap terjebak dalam diskursus akademis dan polemik istilah, sementara peluang pasar wisata Muslim global terus bergerak cepat dan dimanfaatkan negara lain.
“Ini pasar yang nyata. Jangan lagi kita terjebak pada perdebatan simbol. Yang harus kita lihat adalah dampak ekonominya,” ujarnya.
Sebagai pimpinan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Riyanto menyebut industri pariwisata Indonesia memiliki kekuatan besar karena menaungi 24 asosiasi sektor terkait. Ia menilai Indonesia memiliki modal fundamental yang tidak dimiliki banyak negara lain: populasi Muslim terbesar di dunia, kekayaan alam, serta budaya yang harmonis.
Namun, ia mengingatkan bahwa besarnya populasi kerap membuat Indonesia merasa “aman” dan terlalu percaya diri. Sikap itu, menurutnya, justru membuat langkah strategis menjadi lambat. Sementara itu, negara seperti Malaysia bergerak lebih agresif membangun positioning sebagai destinasi ramah Muslim global.
“Kita ini kadang terlalu tawadu yang salah. Padahal ahlinya banyak. Bahkan orang Indonesia banyak yang justru jadi ahli di luar negeri,” katanya.
Riyanto menekankan pentingnya pendekatan branding yang tepat. Ia menilai pariwisata halal seharusnya dikomunikasikan sebagai bagian dari lifestyle dan perluasan pasar (market expansion), bukan sebagai proyek eksklusif berbasis simbol agama. Dengan pendekatan yang inklusif, wisata ramah Muslim justru dapat menarik wisatawan lintas negara dan latar belakang.
Menurutnya, karakter wisatawan Muslim juga memiliki keunggulan tersendiri. Mereka cenderung bepergian bersama keluarga dalam kelompok besar, memiliki lama tinggal lebih panjang, serta tingkat pengeluaran yang stabil. Pasar ini, kata dia, bukan sekadar ceruk, melainkan kekuatan ekonomi global yang harus direbut dengan strategi yang berani.
Riyanto menegaskan bahwa sejak 2012 konsep pariwisata syariah telah diperkenalkan dan berkembang menjadi pariwisata halal dengan pendekatan global branding. Namun implementasinya belum optimal karena sering terseret perdebatan nomenklatur dan sensitivitas politik domestik.
“Ini bukan soal politik atau agama. Ini soal cuan. Soal bagaimana kita memperluas jangkauan pasar,” tegasnya.
Ia optimistis, dengan strategi terpadu dan keberanian mengambil posisi kepemimpinan, Indonesia mampu menjadi pemain utama dalam industri pariwisata halal dunia. Kuncinya, menurut Riyanto, adalah berhenti berdebat dan mulai fokus pada eksekusi yang berdampak nyata bagi ekonomi nasional.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh