Proyek Giant Sea Wall Dikebut, AHY: Mega Proyek 15-20 tahun

Proyek Giant Sea Wall Dikebut, AHY: Mega Proyek 15-20 tahun

Nusantaratv.com - 04 Mei 2026

AHY (NTVNews.id/Adiansyah)
AHY (NTVNews.id/Adiansyah)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Pemerintah memulai langkah awal pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa di pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa. Proyek strategis nasional ini digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi ancaman lingkungan yang semakin serius di kawasan pesisir.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan bahwa pembangunan Giant Sea Wall merupakan proyek besar yang membutuhkan waktu panjang, bahkan diperkirakan berlangsung hingga 15-20 tahun.

"Ingat ini adalah proyek yang besar, dikatakan mega proyek 15 hingga 20 tahun, melibatkan sumber pendanaan yang beragam juga, tentu tidak hanya dari APBN, tidak hanya dari fiskal hibah, tapi juga kombinasi dengan investasi kerja sama atau public-private partnership dalam dan luar negeri yang tentunya dalam semangat yang saling menguntungkan," ucap AHY di gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Senin, 4 Mei 2026.

Ia mengungkapkan bahwa wilayah Pantura saat ini menghadapi dua tekanan besar sekaligus, yakni penurunan muka tanah (land subsidence) dan kenaikan permukaan air laut. Kondisi ini memicu banjir rob yang semakin sering terjadi dan mengancam kehidupan masyarakat pesisir.

Setiap tahunnya, penurunan tanah di kawasan ini bisa mencapai 1 hingga 20 sentimeter. Di sisi lain, kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim semakin memperparah risiko bencana.

"Ini tentunya mengancam kehidupan masyarakat di sepanjang pesisir Pantai Utara Jawa," terangnya.

AHY di Kick-Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu. (Ntvnews.id/Adiansyah)

Pantura Jawa memiliki peran strategis sebagai jalur utama ekonomi, industri, transportasi, dan logistik nasional. Selain itu, kawasan ini juga menjadi salah satu sentra pangan yang penting bagi Indonesia.

Diperkirakan sekitar 52 juta penduduk tinggal di kawasan Pantura, dengan sekitar 17 juta di antaranya merupakan masyarakat pesisir yang sangat rentan terhadap dampak perubahan lingkungan. Bahkan, kontribusi ekonomi wilayah ini mencapai sekitar 23 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

"Jadi, ini adalah sesuatu yang sangat strategis. Itulah mengapa salah satu bagian dari Asta Cita dan visi dari Bapak Presiden Prabowo Subianto bahkan diletakkan di prioritas yang utama pada program kerja prioritas nasional (PKPN), bahwa pembangunan Giant Sea Wall atau proteksi terhadap Pantura Jawa itu harus bisa dijalankan secara progresif, artinya benar-benar bisa diwujudkan," ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, proyek Giant Sea Wall tidak hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur keras (grey infrastructure), tetapi juga mengadopsi pendekatan ramah lingkungan. Salah satu solusi yang akan dikembangkan adalah pemanfaatan tanaman mangrove sebagai pelindung alami dari abrasi sekaligus penyerap karbon. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan manfaat ekologis sekaligus mendukung ekonomi masyarakat lokal.

"Contohnya menggunakan mangrove sebagai penahan natural abrasi dan juga bisa menyerap karbon lebih baik, termasuk bisa digunakan untuk pengembangan ekonomi masyarakat lokal. Jadi konsep ini adalah konsep besar, mengintegrasikan banyak sektor, oleh karena itu melibatkan banyak pihak dan tidak bisa berdiri sendiri," terangnya.

Pemerintah juga telah membentuk Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa sebagai lembaga yang akan mengoordinasikan proyek ini. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga komunitas dan pelaku usaha.

AHY menekankan pentingnya membangun “super team” untuk memastikan proyek berjalan efektif, mulai dari tahap perencanaan, penganggaran, hingga pelaksanaan.


 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close