Nurdin Tampubolon: Target Pertumbuhan 5,8 Persen Bisa Tercapai Jika Pangan dan Sumber Daya Lokal Diperkuat

Nurdin Tampubolon: Target Pertumbuhan 5,8 Persen Bisa Tercapai Jika Pangan dan Sumber Daya Lokal Diperkuat

Nusantaratv.com - 09 April 2026

Presiden Komisaris NT Corp, Nurdin Tampubolon di program NTV Prime bertajuk “Perang Mereda, Kemana Arah Ekonomi Kita?” (Tangkap layar youtube Nusantara TV)
Presiden Komisaris NT Corp, Nurdin Tampubolon di program NTV Prime bertajuk “Perang Mereda, Kemana Arah Ekonomi Kita?” (Tangkap layar youtube Nusantara TV)

Penulis: Alamsyah

Nusantaratv.com - Presiden Komisaris NT Corp, Nurdin Tampubolon, menegaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,8 persen sangat mungkin dicapai, bahkan bisa melampaui angka tersebut, asalkan pemerintah dan pelaku usaha fokus memperkuat sektor unggulan berbasis sumber daya lokal.

Hal itu disampaikan dalam acara NTV Prime bertajuk “Perang Mereda, Kemana Arah Ekonomi Kita?” di Nusantara TV, Kamis (9/4/2026).

Menurut Nurdin, di tengah situasi global yang masih dibayangi ketidakpastian meski telah terjadi gencatan senjata, Indonesia harus memprioritaskan sektor yang paling fundamental, yakni pangan.

“Yang pertama itu sektor pangan harus menjadi prioritas utama. Apapun yang terjadi di eksternal, kalau pangan kita aman, masyarakat tetap bisa bertahan dan ekonomi tetap berjalan,” ujarnya.

Selain pangan, ia juga menyoroti pentingnya menjaga sektor-sektor penyumbang utama pendapatan negara, seperti ekspor komoditas unggulan. Ia mencontohkan komoditas seperti crude palm oil (CPO) serta hasil tambang yang berkontribusi besar terhadap APBN, baik melalui pajak, royalti, maupun penerimaan negara bukan pajak.

Lebih lanjut, Nurdin menekankan bahwa Indonesia memiliki keunggulan besar sebagai negara agraria dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 280 juta jiwa. Menurutnya, seluruh kebutuhan dasar sebenarnya dapat dipenuhi dari dalam negeri jika dikelola dengan baik menggunakan teknologi dan investasi lokal.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan ekonomi desa melalui koperasi dan UMKM, sejalan dengan program pembangunan dari desa yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pengelolaan rantai pasok yang baik serta penguatan badan usaha milik desa dapat meningkatkan produktivitas masyarakat secara signifikan.

Dalam pandangannya, program bantuan seperti makan bergizi gratis (MBG) perlu dilihat sebagai solusi jangka menengah. Ke depan, kata dia, program tersebut harus bertransformasi menjadi kemandirian ekonomi masyarakat desa.

“Kalau desa sudah kuat ekonominya, masyarakat sudah produktif, maka bantuan seperti itu tidak perlu lagi. Digantikan dengan pendapatan yang mereka hasilkan sendiri,” jelasnya.

Nurdin juga menekankan pentingnya kepastian hukum dan penegakan hukum (law enforcement) yang tegas untuk menciptakan iklim investasi yang sehat. Ia mengingatkan bahwa tanpa birokrasi yang efisien dan kepastian hukum, investor akan enggan masuk ke Indonesia.

Selain itu, ia mengkritisi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor, termasuk barang-barang sederhana yang seharusnya bisa diproduksi oleh UMKM dalam negeri. Ia mendorong inovasi berbasis sumber daya lokal, seperti substitusi bahan impor dengan komoditas lokal.

“Kenapa kita tidak produksi sendiri? Misalnya tepung tidak harus dari terigu impor, bisa dari jagung atau talas. Ini yang disebut inovasi hemat, sekaligus memperkuat ekonomi desa,” katanya.

Ia optimistis, dengan pengelolaan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari pertanian, perikanan, energi hingga tambang, serta didukung perbaikan hukum dan iklim usaha, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya mencapai 5,8 persen, tetapi bisa menembus di atas 8 persen.

“Kalau semua diperbaiki, law enforcement, kepastian hukum, dan fokus pada produktivitas—target 5,8 persen itu kecil. Kita bisa lebih tinggi dari itu,” pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close