Nusantaratv.com - Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik Iran dan ketegangan di Timur Tengah membuat permintaan kendaraan listrik (EV) global kembali meningkat selama dua bulan berturut-turut.
Seperti dilaporkan Reuters, data terbaru dari perusahaan konsultan Benchmark Mineral Intelligence (BMI) pada 13 Mei 2026 menunjukkan, penjualan kendaraan listrik baterai (BEV) dan kendaraan hybrid plug-in (PHEV) mencapai 1,6 juta unit pada April 2026.
Angka tersebut naik 6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, meski turun 9 persen dari rekor penjualan tertinggi pada Maret.
BMI menyebut kenaikan permintaan ini didorong oleh kombinasi insentif pemerintah, mahalnya harga bahan bakar, serta agresifnya ekspansi produsen otomotif China ke pasar global.
"Permintaan tetap kuat berkat dukungan kebijakan pemerintah, kenaikan harga bensin, dan meningkatnya kehadiran produsen otomotif China," tulis BMI dalam laporannya.
Kenaikan harga BBM terjadi setelah konflik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi minyak dunia.
Sejumlah negara pun terpaksa mempertahankan kebijakan pembatasan harga bahan bakar demi menekan dampak ekonomi.
Di Eropa, tren kendaraan listrik terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Penjualan EV di kawasan tersebut melonjak 27 persen menjadi sekitar 400 ribu unit pada April.
Baca Juga: Honda Tutup Pabrik dan Setop Produksi Sejumlah Model di China, Penjualan April 2026 Ambles 48%
Negara-negara di Kawasan Ekonomi Eropa dan Swiss bahkan telah menyiapkan investasi hampir 200 miliar euro atau sekitar US$299 untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik.
Namun, pertumbuhan pasar kendaraan listrik tidak terjadi merata di seluruh dunia. Di China, penjualan kendaraan listrik justru turun 8 persen menjadi sekitar 850 ribu unit pada April 2026.
Penurunan ini dipicu berakhirnya program subsidi tukar tambah kendaraan dan insentif pajak untuk pembelian kendaraan listrik.
Meski begitu, dominasi produsen China di pasar global semakin kuat. Ekspor kendaraan listrik China tercatat menembus lebih dari 400 ribu unit hanya dalam April, sementara total ekspor kendaraan selama empat bulan pertama 2026 mencapai hampir 1,4 juta unit, lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Sementara itu, pasar Amerika Utara mengalami tekanan cukup besar. Penjualan kendaraan listrik di kawasan tersebut turun 28 persen menjadi 120 ribu unit setelah berakhirnya skema kredit pajak kendaraan listrik di Amerika Serikat serta rencana pelonggaran aturan emisi karbon oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Di sisi lain, Meksiko justru mencatat pertumbuhan penjualan hampir 50 persen sepanjang 2026. Sedangkan Kanada diperkirakan kembali pulih setelah pemerintah menyiapkan program insentif baru.
Menariknya, merek kendaraan listrik asal China semakin diminati di Eropa meski Uni Eropa (UE) memberlakukan tarif tambahan.
Data BMI mencatat, sebanyak 22 persen kendaraan listrik dan hybrid plug-in yang terjual di Eropa selama empat bulan pertama 2026 diproduksi di China, naik dibandingkan 19 persen pada tahun sebelumnya.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh