Hadiri Humanitarian Summit Dompet Dhuafa, Anis Matta Tekankan Filantropi sebagai Healing Psikologis

Hadiri Humanitarian Summit Dompet Dhuafa, Anis Matta Tekankan Filantropi sebagai Healing Psikologis

Nusantaratv.com - 15 Januari 2026

Anis Matta Wamenlu (Dok. YouTube NTV)
Anis Matta Wamenlu (Dok. YouTube NTV)

Penulis: Alamsyah

Nusantaratv.com - Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta menilai aktivitas filantropi tidak hanya berdampak pada penerima manfaat, tetapi juga memiliki fungsi penting bagi kesehatan mental orang yang memberi. Menurutnya, tradisi memberi merupakan bagian dari proses penyembuhan psikologis yang diajarkan dalam Islam.

Hal tersebut disampaikan Anis Matta saat menghadiri Indonesia Humanitarian Summit yang digelar Dompet Dhuafa di Nusantara Ballroom, NT Tower. 

Dalam kesempatan itu, ia menyebut bahwa kerja-kerja filantropi yang dilakukan lembaga kemanusiaan sering kali memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang disadari selama ini.

“Saya kira pekerjaan teman-teman di wilayah kerjaan filantropi ini perlu untuk terus-terus kita menjelaskan bahwa apa yang saudara-saudara lakukan ini pada dasarnya mempunyai lebih banyak impact daripada yang mungkin kita sadari selama ini,” ujar Anis Matta pada Kamis, 15 Januari 2026.

Ia kemudian menyoroti dampak paling mendasar dari filantropi, yakni pada aspek kesehatan mental. Anis Matta menjelaskan bahwa Islam memandang sifat kikir sebagai penyakit jiwa, dan memberi merupakan bentuk terapi untuk membersihkan diri dari dorongan negatif tersebut.

“Yang pertama adalah pada dasarnya mengajarkan tradisi memberi itu merupakan fungsi mental health, fungsi kesehatan mental, fungsi healing secara psikologis. Karena dalam Islam, kikir itu adalah penyakit jiwa,” katanya.

Anis Matta menegaskan bahwa Islam tidak menjadikan kekayaan sebagai syarat untuk bisa memberi. Justru, menurutnya, nilai pemberian seseorang yang tidak berkecukupan bisa lebih besar secara spiritual dibandingkan mereka yang berkelebihan harta.

“Di dalam Islam, Anda tidak harus menunggu untuk menjadi kaya baru bisa memberi. Bahkan pemberian dari orang miskin itu pahalanya lebih besar daripada pemberian orang kaya,” ujarnya.

“Fakta bahwa dia memberi itu artinya dia melampaui satu tantangan besar di dalam dirinya yang namanya dorongan memiliki berlebihan,” jelasnya.

Lebih jauh, Anis Matta juga mengulas perbedaan antara pendapatan dan rezeki. Ia menyampaikan bahwa tidak semua harta yang dimiliki seseorang benar-benar menjadi rezeki, kecuali yang dimakan, dipakai, atau disedekahkan.

“Sesungguhnya yang kamu miliki dari hartamu itu hanya apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kamu pakai sampai usang, dan apa yang kamu sedekahkan,” katanya.

Menurut Anis Matta, filantropi berperan sebagai instrumen untuk mengubah pendapatan menjadi rezeki yang bermakna, baik secara spiritual maupun psikologis. Dalam konteks itu, lembaga filantropi memiliki peran penting dalam membantu masyarakat menemukan makna dan keseimbangan dalam kehidupan.

“Sedekah itu pada dasarnya adalah instrumen untuk mengubah rezeki, mengubah pendapatan menjadi rezeki. Masyarakat di mana anggotanya tidak punya harapan kehidupan yang lebih baik, itu masyarakat yang terancam untuk mengalami disabilisasi sosial,” kata Anis Matta.

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close