Nusantaratv.com-Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa tujuan utama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah memberikan asupan gizi kepada kelompok rentan, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B), sebelum menyasar peserta didik. Penegasan ini disampaikan Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi Sony Sonjaya di Jakarta, Kamis, 16 April 2026.
"Sebagaimana tujuan yang ditetapkan, bahwa Program MBG ini perlu saya luruskan. Setiap kali saya datang ke beberapa wilayah, karena yang diutamakan selalu disebut-sebut itu adalah anak sekolah atau peserta didik, sehingga pada praktiknya banyak mitra begitu membuat atau membangun SPPG langsung membuat penandatanganan kesepahaman dengan kepala sekolah," kata Sony.
Ia menekankan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus memprioritaskan kelompok 3B guna meningkatkan kualitas gizi masyarakat sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang menjadi fase krusial dalam tumbuh kembang anak.
"Siapa itu kelompok rentan? Mereka adalah ibu hamil, karena janin di dalam kandungan juga sudah diperhatikan oleh pemerintah, dia harus mendapatkan asupan gizi. Ibu menyusui, balita, baru kemudian peserta didik. Jadi, yang diutamakan adalah 1.000 HPK," ujar dia.
Baca juga: Capaian SPPG Ber-SLHS Meningkat Tajam, Waka BGN: Agustus Seluruh SPPG Harus Sudah Bersertifikat
Lebih lanjut, Sony juga menyoroti adanya praktik di lapangan yang menyimpang dari tujuan program, termasuk kerja sama eksklusif antara mitra tertentu dengan SPPG yang dinilai tidak sesuai aturan.
"Seringkali mereka membuat, kalau saya sebut, pemufakatan jahat. Adanya kalimat 'kami tidak akan menerima MBG dari yayasan lain selain yayasan ini'. Nah, itu sebenarnya tidak boleh. Akhirnya, setiap kali ke daerah, kami luruskan bahwa tujuan utama Program MBG adalah memberikan asupan gizi kepada kelompok rentan," paparnya, dikutip dari Antara.
Di sisi lain, ia menyebut Program MBG juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat melalui pemberdayaan di tingkat lokal. Hingga kini, jumlah SPPG yang terbangun terus meningkat dan melibatkan jutaan tenaga kerja.
"Saat ini ada 26.663 SPPG, bahkan tadi malam saya lihat data sudah 27.066 SPPG yang terverifikasi, jadi, 25.000 telah operasional. Dari jumlah SPPG tersebut, 1,18 juta relawan telah bekerja. Jadi, kalau berbicara tentang pemberdayaan masyarakat, yang pertama kali wujudnya terlihat adalah 27 ribu SPPG itu. Semuanya melibatkan masyarakat," tutur Sony Sonjaya.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh