Nusantaratv.com - Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang selama 36 tahun membangun negaranya menjadi kekuatan anti-Amerika Serikat (AS) dan Israel, meninggal pada usia 86 tahun.
Kematian Khamenei diumumkan media pemerintah Iran pada Sabtu (28/2/2026), seperti dikutip dari Reuters, setelah serangan udara gabungan AS dan Israel menargetkan kompleks kediamannya di Teheran, menandai titik akhir dari era kepemimpinannya yang penuh kontroversi.
Khamenei, yang awalnya dianggap lemah setelah kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini, berhasil mengukir posisi tak tergoyahkan sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Iran abad ini.
Menurut Karim Sadjadpour dari Carnegie Endowment for International Peace, Khamenei adalah "kecelakaan sejarah" yang berubah dari presiden lemah menjadi pemimpin tertinggi yang dominan.
Pemerintahan Garis Keras dan Anti-Barat
Sepanjang masa jabatannya, Khamenei dikenal karena kritik tajam terhadap Washington dan kebijakan anti-Israel yang konsisten. Dia menekankan Iran tidak akan menyerah pada musuh, bahkan saat gelombang protes anti-pemerintah merebak dengan slogan "Matilah dictator".
Khamenei mempertahankan sikap garis keras Khomeini, menekan presiden yang berpikiran independen, dan memastikan isolasi Iran dari dunia Barat. Dia menegaskan program nuklir Iran bersifat damai, meski Barat menudingnya untuk tujuan militer.
Kesepakatan nuklir 2015 yang dibatasi pemerintahan pragmatis Hassan Rouhani hanya mendapat dukungan hati-hati dari Khamenei. Setelah Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian tersebut pada 2018, permusuhannya terhadap AS justru meningkat, memperkuat pengaruh garis keras di dalam negeri.
Penindasan Protes dan Hak Asasi Manusia
Khamenei dikenal tegas menindak protes, dari gelombang mahasiswa pada 1999-2002 hingga kerusuhan 2009 yang dipicu hasil pemilu yang dipersengketakan.
Pada 2022, dia memerintahkan tindakan keras terhadap demonstran atas kematian Mahsa Amini, seorang wanita Kurdi-Iran berusia 22 tahun, yang meninggal dalam tahanan polisi moral pada September tahun itu.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, saat pertemuan di Teheran, Iran, pada 17 Februari 2026. (Foto: Kantor Pemimpin Tertinggi Iran/WANA via Reuters)
Dia memperlihatkan kekuatan absolutnya sebagai pemimpin tertinggi Iran. Sebagai otoritas tertinggi, perkataan Khamenei adalah hukum.
Dia menguasai angkatan bersenjata, badan keamanan, peradilan, serta media nasional, dan menempatkan sekutu-sekutunya di posisi kunci Garda Revolusi Iran.
Dari Ulama Muda hingga Penguasa Iran
Lahir di Mashhad, Iran, pada April 1939, Khamenei menunjukkan komitmen keagamaan sejak usia 11 tahun. Dia belajar di Irak dan Qom, lalu terjun ke politik dan aktivisme anti-Shah sejak muda, hingga dipenjara karena kegiatan politik.
Naiknya Khamenei ke jabatan tertinggi setelah Khomeini mengejutkan banyak pihak, karena dia tidak memiliki daya tarik populer seperti pendahulunya.
Namun pengaruhnya meluas melalui hubungan dekat dengan Garda Revolusi dan kontrol atas kekayaan negara lewat Setad, organisasi yang mengelola aset miliaran dolar.
Pengaruh Regional dan Konflik Bersenjata
Di bawah kepemimpinannya, Iran memperluas pengaruh di Timur Tengah, mendukung milisi Syiah di Irak dan Lebanon, serta presiden Suriah Bashar al-Assad. Khamenei mendukung Hamas, Houthi, dan kelompok proksi lain, menjadikan Iran pemain kunci dalam konflik anti-Israel.
Konflik tersebut memuncak dalam serangan Israel terhadap target nuklir dan militer Iran pada Juni 2025, diikuti intervensi AS. Khamenei tetap menolak normalisasi hubungan dengan AS dan mempertahankan program nuklir sebagai simbol kedaulatan nasional.
Warisan yang Kontroversial
Kematian Khamenei meninggalkan Iran dalam ketidakpastian, di tengah tekanan dari AS dan Israel serta ketidakpuasan domestik, terutama di kalangan generasi muda.
Banyak warga, seperti Mina (25), berharap hidup damai, namun merasa terjebak dalam kebijakan nuklir dan agresi regional yang diwarisi dari revolusi 1979.
Era Khamenei menandai Iran yang kuat secara militer dan diplomatis, tetapi juga tercatat dalam sejarah karena penindasan internal, permusuhan terhadap Barat, dan keterlibatan dalam konflik regional yang panjang.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh