Xiaomi Ubah Barang Rongsokan Jadi Sasis Mobil Listrik, Emisi Produksi Turun hingga 93%

Xiaomi Ubah Barang Rongsokan Jadi Sasis Mobil Listrik, Emisi Produksi Turun hingga 93%

Nusantaratv.com - 07 Juli 2026

Mobil listrik Xiaomi SU7. (Foto: Istimewa via ArenaEV)
Mobil listrik Xiaomi SU7. (Foto: Istimewa via ArenaEV)

Penulis: Adiantoro

Nusantaratv.com - Xiaomi Auto kembali membuat gebrakan di industri kendaraan listrik dengan memperkenalkan Titan Alloy 2.0, material aluminium daur ulang 100% yang digunakan sebagai struktur utama sasis mobil. 

Teknologi ini diklaim mampu memangkas emisi karbon hingga 93% dibandingkan penggunaan aluminium primer, sekaligus menjadi langkah strategis menghadapi regulasi emisi yang semakin ketat di pasar global, terutama Eropa.

Melansir CarNewsChina, Selasa (7/7/2026), Titan Alloy 2.0 menjadi material daur ulang pertama di China yang dipakai untuk komponen struktural bertekanan tinggi pada rear integrated gigacasting atau lantai belakang mobil yang dicetak secara utuh. 

Dengan inovasi ini, Xiaomi tidak lagi bergantung pada aluminium murni untuk komponen keselamatan kendaraan.

Material tersebut memiliki jejak karbon hanya 1,1 kgCO₂e per kilogram, jauh lebih rendah dibandingkan aluminium konvensional. 

Angka ini telah diverifikasi oleh IVL Swedish Environmental Research Institute dan resmi tercatat dalam sistem Environmental Product Declaration (EPD) internasional.

Proses Produksi Lebih Ramah Lingkungan

Titan Alloy 2.0 diproduksi melalui enam tahap manufaktur khusus. Bahan baku daur ulang lebih dulu melewati lima tahap pra-pemrosesan sebelum dilebur dan disesuaikan komposisinya. 

Setelah menjadi batangan paduan, material langsung diproses di jalur gigacasting otomatis. Untuk memastikan kualitas dan kekuatannya, setiap komponen diperiksa menggunakan teknologi sinar-X internal. 

Integritas struktural material juga telah divalidasi oleh komite verifikasi teknis di bawah Federasi Industri Mesin China.

Kurangi Emisi hingga 800 Kg per Mobil

Penggunaan material baru ini memberikan dampak lingkungan yang signifikan. Xiaomi menyebut setiap kendaraan yang menggunakan Titan Alloy 2.0 mampu mengurangi emisi karbon sekitar 800 kilogram selama proses produksinya.

Langkah tersebut menjadi semakin penting karena Uni Eropa telah menerapkan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), regulasi yang mengenakan biaya tambahan pada produk impor berdasarkan jejak karbon sepanjang siklus produksinya. 

Dengan emisi yang lebih rendah, kendaraan listrik Xiaomi berpotensi memiliki daya saing lebih tinggi di pasar ekspor, termasuk untuk model seperti Xiaomi YU7 GT.

Target Produksi Tembus 550 Ribu Unit

Xiaomi menargetkan kapasitas produksi mencapai 550.000 kendaraan per tahun untuk platform generasi berikutnya. 

Jika target tersebut tercapai, perusahaan memperkirakan pengurangan emisi karbon dapat mencapai sekitar 450.000 ton CO₂ setiap tahun di seluruh jaringan produksinya.

Sementara itu, berdasarkan data China EV DataTracker periode Mei 2026, Xiaomi SU7 mencatat penjualan sebanyak 24.023 unit, turun 10,4% dibanding bulan sebelumnya dan turun 14,2% secara tahunan. 

Meski demikian, model tersebut masih menguasai 73,3% penjualan kendaraan Xiaomi. Di sisi lain, Xiaomi YU7 yang baru diluncurkan membukukan 8.736 unit pengiriman, atau sekitar 26,7% dari total volume penjualan bulanan perusahaan, menandai awal yang positif bagi SUV listrik terbaru Xiaomi.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close