Bicara 2045: Anak Muda Titip Masa Depan Indonesia, Kritik Janji Pemerintah hingga Kerusakan Lingkungan Menggema di Museum STOVIA

Bicara 2045: Anak Muda Titip Masa Depan Indonesia, Kritik Janji Pemerintah hingga Kerusakan Lingkungan Menggema di Museum STOVIA

Nusantaratv.com - 12 Juli 2026

Peserta membentangkan kain putih berisi tulisan kritik, aspirasi, dan harapan untuk Indonesia 2045 seusai Workshop Decolonialism dalam rangkaian acara Bicara 2045 di Museum Kebangkitan Nasional (STOVIA), Jakarta, Sabtu (11/7/2026). (Foto: Istimewa)
Peserta membentangkan kain putih berisi tulisan kritik, aspirasi, dan harapan untuk Indonesia 2045 seusai Workshop Decolonialism dalam rangkaian acara Bicara 2045 di Museum Kebangkitan Nasional (STOVIA), Jakarta, Sabtu (11/7/2026). (Foto: Istimewa)

Penulis: Adiantoro

Nusantaratv.com - Gagasan mengenai Indonesia Emas 2045 tidak hanya dipahami sebagai target pembangunan, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mempertanyakan arah masa depan bangsa. Hal itu mengemuka dalam kegiatan Bicara 2045 yang digelar di Museum Kebangkitan Nasional (Ex STOVIA), Sabtu, 11 Juli 2026.

Acara dibuka pukul 09.30 WIB melalui sambutan perwakilan CommLab, Kurie Suditomo, serta perwakilan mahasiswa Politeknik Tempo, Alifah Olivia. Keduanya menekankan bahwa Indonesia Emas tidak dapat diwujudkan hanya melalui slogan pembangunan, melainkan lewat kolaborasi lintas generasi.

"Kita mencoba menyambungkan ide untuk dapat mewujudkan Indonesia Emas 2045," kata Kurie dalam sambutannya.

Ia mengajak peserta membayangkan perjuangan generasi terdahulu yang menaruh harapan kepada anak bangsa. Menurutnya, semangat tersebut perlu diteruskan agar cita-cita Indonesia pada usia seabad kemerdekaan tidak berhenti sebagai wacana.

Perwakilan penyelenggara, Cornila, menyampaikan apresiasi terhadap puluhan pegiat seni yang mengirimkan proposal karya untuk berpartisipasi dalam Bicara 2045. Antusiasme tersebut dinilai menunjukkan besarnya perhatian anak muda terhadap isu masa depan Indonesia.

Sementara itu, Alifah Olivia menilai pertanyaan mengenai cita-cita pribadi kini perlu diperluas menjadi cita-cita kolektif bangsa.

"Sebagai anak muda, kita sering ditanya, 'Mau jadi apa nanti?' Tapi hari ini, mungkin pertanyaannya adalah, 'Indonesia seperti apa yang ingin kita bangun bersama saat negeri ini genap berusia 100 tahun?'," ujarnya.

Menurut Olivia, generasi muda pada 2045 bukan lagi menjadi penonton pembangunan, melainkan penggerak berbagai sektor kehidupan.

"Di tahun 2045, kita bukan lagi sekadar generasi muda. Kitalah yang akan menjadi penggerak, pemimpin, pendidik, seniman, dan penjaga arah Indonesia. Masa depan bukan sesuatu yang kita tunggu, tetapi sesuatu yang kita ciptakan bersama," katanya.

Usai pembukaan, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok untuk mengikuti tur Museum STOVIA. Dalam sesi tersebut, peserta diajak menelusuri sejarah pendidikan kedokteran di Hindia Belanda, peninggalan meriam Portugis, hingga politik etis yang melatarbelakangi berdirinya sekolah kedokteran STOVIA.

Pemandu museum menjelaskan bahwa STOVIA didirikan sebagai bagian dari politik etis atau politik balas budi Belanda kepada masyarakat pribumi. Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai VOC sebagai salah satu perusahaan terbesar di dunia pada masanya yang bahkan memiliki kewenangan mencetak mata uang sendiri.

Film Dokumenter hingga Workshop Menjadi Ruang Mengkritik Negara

Memasuki pukul 10.00 WIB, peserta mengikuti pemutaran film dokumenter "Indonesia Calling" karya Joris Ivens yang dirilis pada 1946. Film tersebut mengisahkan aksi mogok sekitar 14 ribu buruh pelabuhan di Australia yang menolak memuat kapal Belanda sebagai bentuk dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia.

Film itu juga menggambarkan dukungan sejumlah negara, seperti Australia, India, Amerika Serikat, dan Cina terhadap perjuangan diplomatik Indonesia menghadapi upaya Belanda mempertahankan kolonialisme. Salah satu kutipan dalam film berbunyi, "Perjuangan mereka adalah perjuangan kita."

Usai pemutaran film, peserta mengikuti Workshop Decolonialism bersama Civic Toolkit. Mereka dibagi menjadi empat kelompok untuk melakukan body mapping menggunakan siluet tubuh di atas karton.

Setiap bagian tubuh diisi dengan refleksi berbeda. Mata menggambarkan apa yang dilihat dari film, telinga berisi suara yang didengar dan ingin disuarakan kembali, dada menggambarkan perasaan, sedangkan perut menjadi ruang menuliskan kegelisahan setelah menyaksikan dokumenter tersebut.

Sesi kemudian berlanjut dengan penulisan refleksi bersama di atas kain putih sepanjang 2,5 meter. Di atas kain tersebut, peserta menuliskan kritik, harapan, serta imajinasi mengenai Indonesia pada 2045.

Beragam persoalan muncul dalam tulisan para peserta, mulai dari pelanggaran hak asasi manusia yang belum memperoleh penyelesaian, kekerasan seksual, praktik korupsi pejabat, hingga berbagai kasus pelanggaran masa lalu yang dinilai masih belum memperoleh keadilan.

Ruang refleksi tersebut memperlihatkan bahwa sebagian peserta memandang Indonesia Emas tidak cukup diukur melalui pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan fisik. Penegakan hukum, penyelesaian pelanggaran HAM, dan akuntabilitas pemerintah juga dinilai menjadi syarat penting untuk mencapai cita-cita tersebut.

Kegiatan Bicara 2045 di Museum Kebangkitan Nasional (Ex STOVIA), Sabtu, 11 Juli 2026. (Foto: Istimewa)

Pertunjukan Seni Menyuarakan Janji Politik, Tambang, hingga Kerusakan Hutan

Memasuki sesi pertunjukan seni pada siang hingga sore hari, kritik terhadap kebijakan negara semakin kuat disampaikan melalui berbagai medium artistik.

Paduan Suara Gitaku menjadi salah satu penampilan yang paling menonjol. Melalui tiga repertoar lagu, kelompok tersebut menyoroti janji-janji pemerintah yang dinilai belum terpenuhi, penindasan yang masih berlangsung, hingga suara masyarakat yang dianggap kerap diabaikan.

Dalam salah satu lagu, Gitaku mengangkat isu pembukaan izin tambang baru, ekspansi perkebunan sawit, penebangan hutan, serta berbagai kebijakan yang dinilai tidak sejalan dengan harapan masyarakat terhadap pemerintah.

Penampilan berikutnya datang dari Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA). Selain memperlihatkan karya seni botani, narasumber mengingatkan pentingnya pemanfaatan kekayaan flora Indonesia sebagai sumber ilmu pengetahuan dan inovasi.

"Indonesia memiliki banyak flora yang sangat indah dan dapat dimanfaatkan. Saya berharap kekayaan flora benar-benar digunakan secara maksimal sehingga mampu melahirkan berbagai inovasi," ujarnya.

Ia kemudian memperkenalkan sejumlah tanaman asli Indonesia, seperti kantung semar dan bunga ganda suli, sekaligus menjelaskan nilai ilmiah maupun manfaatnya sebagai tanaman obat.

Isu lingkungan juga diangkat Pullot Collective dari Banda Aceh. Lewat format pertunjukan menyerupai obrolan di warung kopi, mereka mengisahkan Pulau Breuh yang menghadapi persoalan sampah kiriman dari wilayah lain.

Kelompok tersebut berharap pada 2045 masyarakat di pulau itu mampu mengelola sebagian besar sampah yang masuk dan memperoleh kabar baik mengenai kondisi lingkungannya.

Kritik serupa kembali muncul melalui pertunjukan wayang Ruru Kids bertajuk Rumah Kita, Bumi Kita. Pertunjukan itu mengajak anak-anak menjaga bumi dari kerusakan akibat eksploitasi hutan, penumpukan sampah plastik sekali pakai, hingga kerusakan ekosistem yang disebut lahir dari kepentingan pembangunan yang mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

"Hutan adalah rumah kita bersama. Jika ada yang rusak, kita harus merawat dan memperbaikinya," menjadi pesan utama yang disampaikan dalam pertunjukan tersebut.

Rangkaian acara ditutup oleh Elpro Art Dance melalui monolog dan tari Nusantara yang mengajak generasi muda mencintai budaya Indonesia. Di penghujung acara, penonton diajak naik ke panggung untuk menari bersama para penampil sebagai simbol kolaborasi lintas generasi dalam membangun Indonesia menuju 2045.

Sepanjang pelaksanaan Bicara 2045, seni tidak hanya hadir sebagai hiburan, melainkan menjadi medium untuk menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan yang dinilai masih membayangi perjalanan Indonesia. 

Di tengah narasi besar Indonesia Emas, para peserta mengingatkan bahwa janji pembangunan akan kehilangan makna apabila penyelesaian pelanggaran HAM, perlindungan lingkungan, pemberantasan korupsi, dan pemenuhan hak-hak warga negara belum menjadi prioritas pemerintah.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close